Wednesday, December 6, 2023

Tuesday, October 10, 2023

OJS Server

https://openjournaltheme.com/docs/documentation/what-is-ojs-server-requirement

Minimum Server Requirement :  #

  1. Operating System: Windows / Linux Based
  2. Minimal Disk Space: 500MB
  3. RAM: 500MB
  4. Apache > 2.46  version
  5. Curl installed and available
  6. Mysql 4.1 / MariaDB 10 / PostgreSQL 8.0
  7. PHP 7.3 with PHP package (PHP 8.1 is not recommended – there is some problem with the third-party plugin) :
    • php-xml 
    • php-curl
    • php-mbstring
    • php-mysql (use mysqli as ojs database connection)
    • php-pgsql (optional for Postgre db)
    • php-intl
Share:

Monday, August 21, 2023

install eprints, SSL dan renew SSL

 https://fazar.net/tutorial-lengkap-instalasi-eprints-3-4-pada-ubuntu-20-04/


renew certbot

https://docs.digitalocean.com/support/how-can-i-renew-lets-encrypt-certificates/

https://idnetter.com/cara-auto-renew-sertifikat-ssl-lets-encrypt/

Share:

Tuesday, April 11, 2023

setting SSL di ubuntu

 

Langkah 2, Install SSL di Apache

Diasumsikan server vps kamu sudah terinstall apache. Selanjutnya akses vps kamu secara remote melalui ssh. Gunakan panduan cara menggunakan ssh

1. Aktifkan modul ssl di apache

Untuk mengaktifkan modul SSL, kamu bisa menggunakan command berikut

a2enmod ssl

service apache2 restart

 

  1. Buat folder tempat SSL

Berikutnya kamu perlu membuat sebuah folder, yang berfungsi untuk menaruh certificate SSL domain kamu. Kamu akan buat folder private dibawah direktori /etc/ssl/ gunakan perintah :

mkdir -p /etc/ssl/private

chmod 700  /etc/ssl/private

 

  1. Upload SSL ke server

Selanjutnya upload certificate SSL kamu ke server, kamu bisa menggunakan Filezilla untuk upload file. Dibagian setting host kamu bisa isi seperti ini : 

Keterangan:

Host , diisi alamat ip server vps

Username, diisi username untuk masuk ssh, biasanya root

Password, isikan dengan password user

Port, isikan dengan 22 (Kita akan masuk melalui sftp)

Kemudian klik tombol Quickconnect, jika muncul warning Hostkey, no problem kamu tinggal tekan Ok

Arahkan Remote site ke direktori /etc/ssl/private

Kemudian bagian panel kiri adalah lokal komputer / laptop kamu, pilih semua kemudian drag file SSLnya ke Remote site

 

  1. Setup Virtual Host

Edit file yang bernama default-ssl.conf

sudo vi /etc/apache2/sites-enabled/default-ssl.conf


SSLEngine on

SSLCertificateFile /etc/ssl/private/certificate.crt

SSLCertificateKeyFile /etc/ssl/private/private.key

SSLCertificateChainFile /etc/ssl/private/ca-bundle.crt

Restart Apache

Lalu restart apache dengan perintah :

service apache2 restart 




https://www.jagoanhosting.com/tutorial/tutorial-vps/cara-install-ssl-di-apache-ubuntu

Share:

Sunday, January 17, 2021

Fatal error: $CFG->dataroot is not writable, moodle

Fatal error: $CFG->dataroot is not writable Today I ran into the same error. After a while i got the idea. On any linux box such as Red Hat, Cent OS, fedora and Co there is a pretty good likelihood that SELinux is enabled and enforced. First of all you should check the directory and file permissions. Being at least accessible and readable to the web server - most often apache. Dirs and files should be owned by apache:apache. The SELinux is quite consequent. I therefore ran into this issue after relabelling the system. In case that after permission setting the web server still does complain about „$CFG->dataroot not writable“ look at the SELinux labels of the dirs and files in $CFG->dataroot. They are displayed with the CLI ls -lZ /full_path_of_dataroot All labels should be apache apache unconfined_u:object_r:httpd_sys_rw_content_t:s0 4096 1. Dez 14:21 cache The httpd_sys_rw_content shows that the dir or file is writeable. In case this is not given execute sudo chcon -R -t httpd_sys_rw_content_t /full_path_of_dataroot This will change the file context recursively to the type httpd read/write. Reload the webpage.
Share:

Monday, December 21, 2020

rsync otomatis backup linux

 http://lpseacehselatankab.blogspot.com/2017/01/backup-data-server-utama-secara-otomatis.html

Setelah tutorial sebelumnya membahas tentang cara install dan konfigurasi SPSE di centos sebagai server backup, kini saya tuliskan lagi cara backup file hasil upload dan backup database dari server utama ke server backup secara otomatis menggunakan crontab dan rsync. Berikut step – stepnya
Asumsi ip server utama 192.168.0.2 dan ip server backup 192.168.0.3 dengan password root yang sama antara server utama dengan server backup
Langkah pertama kita lakukan backup file hasil upload dengan menggunakan ssh dan rsync

Login ke server utama menggunakan putty lalu generate key untuk ssh

# ssh-keygen   ==> ( ketika ada pertanyaan, cukup di enter saja tanpa mengisikan apapun)

Copykan public key hasil dari ssh-keygen ke server backup

# ssh-copy-id -i .ssh/id_rsa.pub  192.168.0.3

Lakukan sinkronisasi file antara server utama dengan server backup, semisal file tersebut berada di folder /home/file_upload di kedua server.

# rsync -avz -e ssh /home/file_upload/*  root@192.168.0.3:/home/file_upload/
Masukkan perintah rsync tersebut ke dalam crontab agar bisa di eksekusi sesuai yang kita jadwalkan misalnya setiap 10 menit sinkronisasi dijalankan.

# crontab -e

*/10 * * * *  rsync -avz -e ssh /home/file_upload/*  root@192.168.0.3:/home/file_upload/

Langkah kedua, backup database postgresql dengan membuat sebuah file bantuan agar secara otomatis membackup database dan menyimpan hasil backup di folder yang diinginkan dan juga secara otomatis menghapus file hasil backup yang sudah kadaluarsa. semisal kita batasi file backup sampai dengan 7 hari sehingga hanya terdapat 7 file saja. Berikut contoh filenya dengan diberi nama backupdata.sh

# nano /usr/local/bin/backupdata.sh

backupdata
# chmod 755 /usr/local/bin/backupdata.sh

Masukkan perintah menjalankan backupdata kedalam crontab setiap 10 menit dan lakukan sinkronisasi setiap 15 menit

# crontab -e

*/10 * * * *   /usr/local/bin/backupdata.sh
*/15 * * * *  rsync -avz -e ssh /home/backup/*  root@192.168.0.3:/home/backup/

Lalu restart crontab nya

# /etc/init.d/cron restart     ==> versi debian dan turunannya
# /etc/init.d/crond restart  ==> versi redhat dan turunannya

Share:

Wednesday, November 18, 2020

Mengatasi Serangan Open Recursive DNS di MikroTik

 Saat ini perangkat MikroTik sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata karena sudah banyak yang mulai menggunakannya. Namun dari banyaknya pengguna tersebut masih banyak yang kurang mengerti dasar-dasar keamanan pada MikroTik. Maka dari itu saya akan coba membahas salah satu teknik untuk menghadapi yang namanya celah Open Recursive DNS.

Serangan Open Recursive DNS

Serangan Open Recursive DNS adalah penggunaan IP dari Router kita sebagai DNS server oleh orang lain di luar jaringan kita. Hal ini biasanya ditandai dengan tingginya bandwidth unggah Router yang menuju ke Internet. Apa efek yang disebabkan oleh hal ini? Internet yang kita gunakan menjadi lebih lambat.

Pada Router dengan sistem operasi keluaran MikroTik yaitu RouterOS hal ini dipicu karena ketika mengizinkan Router menjadi DNS Server. Kalau teman-teman pergi ke IP > DNS di sana ada pilihan Allow Remote Requests yang berarti mengizinkan IP dari Router digunakan sebagai DNS Server. Inilah letak kesalahan orang yang baru belajar MikroTik, karena walau sebenarnya dia tidak menggunakan tapi asal centang saja. Intinya yang penting sesuai dengan tutorial yang ada di Internet.

Mengetahui Router Terkena Serangan

Untuk mengetahui Router terkena serangan atau tidak teman-teman bisa mengecek apakah bandwidth upload pada antarmuka jaringan yang langsung ke internet simetris dengan yang ada di lokal? Jika beda-beda tipis sih tidak masalah tetapi jika bedanya tinggi sekali maka perlu dicurigai. Jika sudah merasa curiga maka lakukan Torch pada antarmuka yang mengarah ke Internet seperti di bawah ini dan lihatlah bahwa bandwidth upload kurang wajar. Untuk lebih memastikan kalian coba cari saja informasi IP tersebut, untuk saya sendiri sudah beberapa kali IP dari negara Tiongkok.

Mendeteksi serangan Open Recursive DNS di MikroTik

Mengatasi Open Recursive DNS

Ada 2 pilihan yang bisa teman-teman lakukan yaitu dengan mematikan fungsi DNS Server pada Router kita dengan melakukan unchecklist pada pilihan Allow Remote Request pada konfigurasi DNS.

Mengatasi Open Recursive DNS di MikroTik

Kalau teman-teman ternyata masih membutuhkan Router MikroTik sebagai DNS Server maka kita bisa melakukan pemblokiran permintaan DNS ke antarmuka jaringan yang terhubung ke internet. Contohnya adalah dengan menggunakan perintah di bawah ini. Oh yaa teman-teman jangan untuk langsung copy paste perintah tersebut ke Router yaa karena kemungkinan akan langsung muncul pesan kesalahan. Pastikan bahwa variabel pada in-interface adalah antarmuka jaringan yang menuju ke Internet.

/ip firewall filter
add chain=input dst-port=53 in-interface=internet protocol=tcp action=drop
add chain=input dst-port=53 in-interface=internet protocol=udp action=drop

Sekedar menjelaskan maksud dari perintah tersebut, jadi kita akan memblokir permintaan yang masuk dari Internet  (input > internet) yang meminta DNS (TCP & UDP port 53).

Pengecekan Berhasil atau Tidak

Untuk melakukan pengecekan apakah kita sudah berhasil atau tidak bisa dilakukan dengan cara melihat langsung apakah trafik yang mencurigakan tadi masih berjalan atau tidak. Selain itu kita juga bisa menggunakan situs web http://openresolver.com yang memeriksa IP Publik dari router kita apakah masih memungkinkan terkena serangan ini atau tidak. Kalau tidak tahu berapa IP Publiknya silahkan ketik saja di kolom pencarian Google dengan kata kunci my ip.

pengecekan dengan opensolver.com

Jika sudah dilakukan sekarang periksa kembali lagi apakah penggunaan bandwidth sudah normal kembali atau belum. Jika belum silahkan tulis masalah kamu pada kolom komentar di bawah karena tampaknya harus ada penanganan khusus ðŸ˜‡.

Share: